Keluarga dan Pengacara Korban Penganiayaan di Rohil Pertanyakan Perkembangan Penanganan Perkara
Sudah Bertahun-Tahun

By Bermadah 11 Feb 2019, 12:21:31 WIB Hukrim
Keluarga dan Pengacara Korban Penganiayaan di Rohil Pertanyakan Perkembangan Penanganan Perkara


BERMADAH.CO.ID, PEKANBARU - Sudah berjalan selama enam tahun (sejak 2013), penanganan kasus penganiayaan yang dialami keluarga Maryatun warga Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir belum menemui titik terang.

Hari ini, Senin (11/2/2019) sekitar pukul 09.30 WIB keluarga korban berkumpul di Masjid Al-Falah Darul Muttaqin Jalan Sumatera Pekanbaru bersama dengan 100 orang pengacara yang turut membantu meluruskan kasus tersebut, dan akan mendatangi Polda Riau.

"Kita akan datangi Polda Riau untuk mempertanyakan penanganan perkaranya. Dibantu juga sama rekan advokat lainnya secara sukarela," ujar Suroto selaku Penasehat Hukum korban, Senin (11/2/2019).

Menurut Suroto, kejadian sadis pada tahun 2013 silam yang menimpa keluarga korban (suami dan anaknya), dilakukan pekerja kebun milik AB yang diduga merupakan oknum anggota DPRD yang masih aktif di salah satu daerah di Sumatera Utara yang juga tengah menjabat sebagai Ketua DPC salah satu partai.

Dikatakan Suroto, yang menjadi korban penganiayaan sadis tersebut adalah suami Maryatun dengan banyak tusukan di bagian depan dan belakang tubuhnya. Tak tanggung-tanggung, bahkan kepalanya juga mengalami luka parah.

"Untuk Maryatun sendiri dibacok tangannya. Kepala dan badannya dihantam (pukul) kayu. Jempol patah. Untuk anak korban Arazaqul dipukuli dibagian kepala serta dadanya. Akibatnya, anak korban tidak bisa makan dan minum lewat mulut," bebernya.

Diceritakannya, sehari setelah kejadian, Sumardi yang merupakan anak Maryatun lainnya, membuat laporan ke Polsek Panipahan. Saat pihak kepolisan bersama masyarakat berupaya mengejar pelaku ke barak yang biasa ditinggali. Akan tetapi pelaku keburu kabur.

"Aparat telah melihat langsung kondisi keluarga korban ini. Namun setelah itu, selama bertahun-tahun kami pertanyakan perkembangan perkaranya. Dan terhadap para korban yang sudah sembuhpun kami pertanyakan kapan dilakukan pemeriksaan," kesal Suroto.

Tidak hanya itu, pada Tahun 2017, aparat kembali melanjutkan penyelidikan kasus ini dengan mengumpulkan keterangan saksi dan hasil visum korban. Dan petugas kepolisian juga sudah menetapkan tersangka, yang masih dalam status DPO.

AB diketahui, sudah dua kali dilakukan pemanggilan pada tahun 2011 dan 2018 lalu. Namun terhadap AB juga telah beberapa kali dilakukan upaya jemput paksa. Namun polisi tak berhasil membawanya, dengan alasan AB tidak diketahui keberadaanya.

"Akan tetapi sampai saat ini upaya serius yang dilakukan kepolisian untuk mencari pelaku kami pertanyakan. Terhadap AB, oknum Dewan itu pun kami pertanyakan pemeriksaannya," papar Suroto.

"Terdapat sesuatu yang janggal dalam kasus ini," ungkap Suroto.(fik)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.


Jajak Pendapat



Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video