Menyelami Pola Pikir dan Petuah Mazhab Neo-liberalisme di Laut Tiongkok Selatan

By Bermadah 18 Mar 2020, 01:30:29 WIB Opini
Menyelami Pola Pikir dan Petuah Mazhab Neo-liberalisme di Laut Tiongkok Selatan

Keterangan Gambar : Mahbi Maulaya


BERMADAH.CO.ID - Dalam beberapa dekade terakhir, permasalahan Laut Tiongkok Selatan telah mendominasi topik pemberitaan media, penelitian ilmiah, dan perhatian elite-elite pemerintahan negara di Asia Tenggara. Konflik yang berkepanjangan dan tak terselesaikan di Laut Tiongkok Selatan telah menjadi dasar bagi masyarakat internasional untuk menjuluki wilayah perairan yang strategis dan kaya akan sumber daya alam tersebut dengan sebutan “Lautan Konflik”. 

Meningkatnya kompleksitas permasalahan dan tensi di antara negara-negara yang terlibat bukan hanya karena klaim yang tumpang tindih, namun juga disebabkan oleh pendekatan penyelesaian konflik yang berbeda.

Di antara para claimant states, seperti Brunei, Filipina, Malaysia, Taiwan, dan Vietnam (Indonesia tidak termasuk kategori claimant states), Tiongkok merupakan negara yang mempunyai komitmen tak tergoyahkan untuk menerapkan pendekatan bilateralisme (konsep negosiasi dua negara).

Sedangkan Filipina (di bawah pemerintahan Aquino III) terkenal dengan upayanya untuk mengedepankan konsep multilateralisme (konsep diplomasi melalui kerangka institusi internasional atau juga bisa dikatakan sebagai kerangka negosiasi yang melibatkan lebih dari tiga negara).

Dalam merespons dinamika tersebut, sebuah perdebatan ilmiah pun muncul di dalam kajian hubungan internasional, yakni antara ilmuwan yang bermazhab realisme dan yang beraliran neo-liberalisme. Para ilmuwan realis berpendapat bahwa konflik Laut Tiongkok Selatan hanya bisa diselesaikan dengan konsep bilateralisme karena persengketaan ini berkaitan dengan masalah teritorial yang identik dengan nilai kedaulatan sebuah negara.

Setiap isu kedaulatan hanya bisa didiskusikan oleh dua negara yang terlibat. Oleh karenanya, upaya menerapkan konsep multilateralism tidak akan relevan. Hal ini merupakan sebuah manifestasi dari penjunjungan tinggi nilai kedaulatan yang dianjurkan oleh mazhab realisme.

Di sisi lain, para ilmuwan yang memeluk mazhab neo-liberalisme memiliki pendapat yang berseberangan. Bagi mereka, konsep multilateralisme merupakan sarana yang paling tepat tidak hanya untuk menyelesaikan konflik Laut Tiongkok Selatan, tetapi juga untuk menciptakan atmosfir keamanan internasional yang berkelanjutan di kawasan tersebut.

Mazhab neo-liberalisme mengajarkan pengikutnya untuk memercayai bahwa multilateralisme merupakan sebuah wadah yang mampu menyelaraskan, mempersatukan, dan mengharmonisasikan setiap keinginan, tujuan, dan kepentingan banyak negara yang ada di dalamnya. Penganut mazhab pemikiran ini pun percaya bahwa multilateralisme mampu mengkoordinasikan setiap aksi negara yang terlibat sehingga mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. 

Multilateralisme menjunjung tinggi dan mengimplementasikan norma internasional yang ada. Tidak seperti bilateralisme, multilateralisme menekankan nilai transparansi dan mereduksi upaya-upaya negara yang lebih kuat untuk mendiskriminasi negara lain. 

Dalam menilai keunggulan multilateralisme di atas, para ilmuwan neo-liberlis berpendapat bahwa konsep negosiasi tersebut merupakan jalan yang paling tepat untuk menjembatani forum dialog dan menciptakan rasa percaya dan kemufakatan di antara pihak-pihak yang berkonflik di Laut Tiongkok Selatan. 

Ada dua bantahan yang diutarakan neo-liberalis terhadap argumen para realis. Yang pertama, konflik Laut Tiongkok Selatan dikategorikan sebagai multi-parties conflict (konflik yang melibatkan banyak aktor). Lalu Neo-liberalis mempertanyakan “Apakah negosiasi bilateralisme (yang hanya melibatkan dua negara) mampu untuk menjembatani dialog dan menciptakan rasa kemufakatan negara-negara yang terlibat konflik? Mengingat bahwa konflik tersebut melibatkan lebih dari dua negara”.

Bantahan kedua berkaitan dengan kebangkitan Tiongkok sebagai negara superpower baru. Argumen yang bersifat sinis melekat pada jiwa neoliberalis tentang konsep negosiasi bilateralisme dimana mereka menganggap bahwa konsep diplomasi dua negara ini merupakan kerangka yang memberikan kesempatan negara kuat untuk mendesak terbentuknya hasil negosiasi yang bersifat diskriminatif bagi negara lemah.

Tak bisa dimungkiri, Tiongkok merupakan aktor yang paling dominan di konflik Laut Tiongkok Selatan. Kekuatan ekonomi, kemampuan militer, dan pengaruh politiknya jauh lebih perkasa dibandingkan aktor-aktor lainnya yang terlibat di Laut Tiongkok Selatan. Dalam dimensi ini, neo-liberalis berdalih bahwa  Tiongkok akan mampu memanfaatkan kapasitas kekuatannya untuk menekan negara lain agar menyetujui setiap tawaran yang diajukannya. 5Dengan ini, penyelesaian konflik Laut Tiongkok Selatan melalui bilateralisme hanya akan bersifat ‘memuaskan’ bagi Tiongkok, bukan negara lainnya. 

Neo-liberalisme memberikan petuah kepada setiap negara yang bersengketa di Laut Tiongkok Selatan agar memiliki semangat, atau setidaknya keinginan, untuk terlibat di dalam kerangka multilateralisme. Multilateralisme bisa menawarkan mereka forum diskusi yang memfasilitasi tercapainya rasa saling memahami atas latar belakang klaim masing-masing, sehingga terciptanya hasil mufakat dapat dimungkinkan. Terlebih lagi, neoliberalis yakin bahwa eksistensi multilateralisme di Laut Tiongkok Selatan mampu menjauhkan negara-negara yang terlibat dari konflik fisik atau direct conflict, menciptakan nuansa keamanan internasional, dan bahkan mendorong tercapainya penyelesaian konflikxxx). 

Oleh: Mahbi Maulaya

Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.


Jajak Pendapat



Komentar Terakhir

  • PelangiQQ

    Ah.. paling bentar ajaa tu - Dapatkan bonus melimpah untuk member baru !! Hanya di ...

    View Article
  • Pelangipoker

    Semoga hukum dapat ditegakkan walaupun melawan orang berduit - Dapatkan bonus untuk member baru ...

    View Article
  • Pokerpelangi

    Udah dapat keja lain mungkin. Habis lama kali diterima PNS - Poker online bonus terbesar untuk ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video