Difabel dan Perjuangan Kesetaraan Lapangan kerja
Hari Penyandang Disabilitas

By Bermadah 04 Des 2020, 12:14:20 WIB Internasional
Difabel dan Perjuangan Kesetaraan Lapangan kerja

Keterangan Gambar : Ilustrasi. Foto: stevepb/Pixabay


BERMADAH.CO.ID - Masa pandemi dan lapangan pekerjaan saat ini menjadi sebuah masalah besar yang dialami banyak orang, tak terkecuali untuk kaum difabel.

Disadari atau tidak, kaum difabel masih belum mendapatkan kesempatan yang sama dalam urusan mendapat pekerjaan, masih banyak diskriminasi yang dihadapi.

Hari Disabilitas Sedunia yang dirayakan tiap tanggal 3 Desember ini, banyak orang kembali diingatkan untuk membuka mata dan meningkatkan kesadaran bahwa kaum difabel berhak mendapatkan kesempatan yang sama dalam berbagai hal, termasuk dalam urusan pekerjaan.

Banyak perusahaan menganggap keterbatasan fisik yang mereka miliki sebagai sebuah hambatan dalam bekerja.

Beberapa perusahaan tampaknya mulai melirik hal tersebut. Mereka tak lagi berpikir kalau difabel tak mampu bekerja dengan baik karena keterbatasan fisik mereka. Sebaliknya mereka justru membuktikan bahwa para difabel punya keterampilan seperti layaknya orang normal.

Diberitakan, di kota Changsa, sebuah toko roti bernama Bach memperkerjakan staf tuna rungu. Mereka mengambil nampan berisi roti labu, roti gulung sosis, dan roti apel secara bergantian. Diskusi semua dilakukan dengan bahasa isyarat. Tak jarang ada yang sembari bercanda, tapi semuanya dalam bahasa isyarat.

"Sulit untuk menghasilkan banyak uang dan mendapatkan pendidikan," kata Wan Ting, 28 tahun yang dipekerjakan oleh Bach sejak 2017 setelah sebelumnya gagal dalam desain periklanan, dikutip dari AFP.

"Sulit (mencari pekerjaan) di tempat lain. Anda perlu mengenal seseorang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baik. Jika tidak, Anda memiliki sedikit pilihan," tambah Wan, tuna rungu sejak lahir dan berbicara melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh Brutzer.

Starbucks, salah satu jaringan kedai kopi terbesar di dunia, perlahan merengkuh pasar kopi yang berbeda. Belum lama ini, mereka membuka kedai kopi yang mengandalkan penggunaan bahasa isyarat untuk penyandang tuli. Dibukanya gerai bahasa isyarat ini menjadi kesempatan bagi para tunarungu untuk bisa merasakan berada di komunitasnya.

"Identitas saya diterima di sini. Ketulian memiliki banyak wajah," ujar salah seorang barista, Crystal Harris, mengutip Washington Post pada 2018 lalu.                                                         
Tak hanya di luar negeri, kesadaran untuk memperkerjakan para difabel juga mulai meningkat di Indonesia. Diberitakan pula, Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso melihat seorang teman yang tuli begitu sulit mengakses pekerjaan. Pengalaman sang kawan, Mohammad Adhika Prakoso membuatnya sadar bahwa banyak perusahaan yang menafikan kemampuan sejumlah kalangan hanya karena keterbatasan komunikasi.

Bersama kedua kawannya, Adhika dan juga Tri Erwinsyah Putra, mereka lantas menginisiasi Kopi Tuli pada Mei 2018 silam.

"Stigma musti dihapus. Teman Tuli punya banyak cara untuk berkomunikasi, bisa bahasa isyarat, tulis, bahasa bibir dan diketik di gadget. Jadi enggak ada alasan buat enggak bisa komunikasi," ujar Putri saat ditemui di kedai Kopi Tuli, Duren Tiga, Jakarta Selatan, 2019 lalu.

"Respons masyarakat luar biasa, sangat positif. Ini juga membuktikan pada masyarakat bahwa teman Tuli bisa bekerja," kata Putri.

Para tunanetra juga membuktikan kalau mereka membuktikan dirinya untuk bekerja. Di Blind Coffee Community, Mohammad Syahrul, Wahyu Adhi Prasetiyo dan Aryani Sri Ramadhani serta rekan-rekan lainnya memperdalam ilmu mereka untuk mengenal industri kopi.

Blind Coffee Community memandang kopi sebagai pembuka kesempatan bagi teman tunanetra untuk memperoleh hidup layak. Selama ini, teman tunanetra yang diidentikkan dengan usaha pijat, bisa mencicipi pekerjaan lain dan menikmati dunia dengan lebih luas.

"Kopi itu perjuangan. Perjuangan kami belajar. Kami punya visi dan misi yang sama bahwa kopi jadi alternatif untuk melanjutkan hidup," kata Yani pada CNNIndonesia.com saat ditemui di Central Park, Jakarta Barat.

Tentu sulit membayangkan bagaimana teman tunanetra bisa membuat kopi. Namun kesulitan inilah yang bisa menciptakan diskusi antara trainer dan teman tunanetra untuk menemukan cara terbaik menyeduh kopi.

Syahrul bercerita, menuang dengan aman bisa dilakukan dengan memastikan letak mulut gelas dan moncong teko. Keduanya didekatkan baru kemudian diberi jarak dengan jari dan mulai menuang. Suara kucuran air yang perlahan menghilang menjadi tanda bahwa gelas mulai terisi penuh. Komunitas membekalinya dengan alat seduh Vietnam drip. Dia dituntut untuk terus menyeduh agar makin luwes.

Semua pasti punya trik khusus dan kelebihan untuk mengurangi jarak kekurangan mereka. Selalu ada jalan bagi mereka yang mau berusaha, termasuk pada kaum difabel.

Beberapa perusahaan seperti Gojek, Grab juga mempekerjakan kaum difabel, salah satunya sebagai driver. Berbekal aplikasi mereka juga bisa berkomunikasi dengan pelanggannya.

Sementara itu, Burger King Indonesia juga turut membantu kaum digabel untuk mendapatkan kehidupan layak. Dalam pernayataan yang diterima CNNIndonesia.com, Burger King Indonesia telah mempekerjakan anggota kru tuli.

"Kami memulai proses perekrutan menjelang akhir 2018 - yang menuntut kami untuk membangun prosedur ketenagakerjaan dan pelatihan dari awal, serta kami telah belajar banyak selama proses tersebut. Kami memahami bahwa bisnis mungkin memiliki beberapa pertimbangan sebelum melakukan perjalanan ini, seperti yang terjadi pada kami di awal," tutur Frida Marpaung, Head of HR &CSR di Burger King Indonesia.

Inisiatif bagi perusahaan dan individu untuk menyuarakan suara bisu (#SunyiBersuara) juga secara strategis diluncurkan bersamaan dengan Hari Penyandang Disabilitas Internasional ILO pada tanggal 3 Desember, karena Burger King® adalah anggota kunci dari Jaringan Disabilitas Bisnis Internasional (IBDN) ILO.
 
"Membangun masa depan yang lebih baik dan masyarakat inklusif, bergantung pada tindakan kita hari ini. Jaringan kerja bisnis dan disabilitas di Indonesia adalah sekelompok perusahaan yang memiliki kesamaan pikiran guna mempromosikan ketenagakerjaan penyandang disabilitas," tutur Kazutoshi Chatani Employment specialist di ILO, Jakarta.

Selain itu, dunia seni juga tak mau ketinggalan. Beberapa tahun terakhir, desainer difabel, pelukis, penyanyi juga mulai menunjukkan taringnya. Dunia fashion juga mulai diramaikan dengan kehadiran model-model difabel yang tak kalah menawan dengan model lainya.

Inisiatif perusahaan dan industri ini memang bisa meningkatkan taraf hidup kaum difabel secara umum. Hanya saja, perusahaan diharapkan juga tetap memperhatikan kesejahteraan pekerja difabel dengan segala keterbatasan mereka, menghilangkan diskriminasi, sampai kekerasan.

Tujuannya agar perusahaan yang mempekerjakan kaum difabel tak sekadar 'cari muka' demi brand image semata melainkan benar-benar punya tujuan yang mulia.(***)

Sumber: cnnindonesia.com




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.


Jajak Pendapat



Komentar Terakhir

  • PelangiQQ

    Ah.. paling bentar ajaa tu - Dapatkan bonus melimpah untuk member baru !! Hanya di ...

    View Article
  • Pelangipoker

    Semoga hukum dapat ditegakkan walaupun melawan orang berduit - Dapatkan bonus untuk member baru ...

    View Article
  • Pokerpelangi

    Udah dapat keja lain mungkin. Habis lama kali diterima PNS - Poker online bonus terbesar untuk ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video