23 Tahun WALHI Riau: Diskusi Ramadhan Serukan Keadilan Ekologis dan Penyelamatan Bumi Melayu

By Bermadah 11 Mar 2026, 13:28:54 WIB Riau
23 Tahun WALHI Riau: Diskusi Ramadhan Serukan Keadilan Ekologis dan Penyelamatan Bumi Melayu

BERMADAH.CO.ID, - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau menggelar kegiatan KURMA (Diskusi Ramadhan) dalam rangka memperingati 23 tahun perjalanan advokasi lingkungan di Provinsi Riau. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (10/3/2026) di Rumah Gerakan Rakyat WALHI Riau, Jalan Belimbing Gang Anggur II No.4, Wonorejo, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru.

Diskusi publik ini menghadirkan sejumlah tokoh penting gerakan lingkungan di Riau, di antaranya Hariansyah Usman, Riko Kurniawan, Emi Andriati, dan Direktur WALHI Riau saat ini Eko Yunanda. Kegiatan tersebut dipandu oleh moderator Kunni Masrohanti dan turut dihadiri tokoh masyarakat Riau Hj Azlaini Agus.

Acara ini menjadi ruang refleksi perjalanan panjang WALHI Riau dalam memperjuangkan keadilan ekologis sekaligus menjadi forum konsolidasi bagi gerakan masyarakat sipil. Ratusan peserta hadir dalam diskusi tersebut, mulai dari pimpinan lembaga, komunitas masyarakat sipil, pimpinan redaksi media, hingga kalangan mahasiswa.

Sejak berdiri pada tahun 2003, WALHI Riau dikenal aktif mengadvokasi berbagai persoalan lingkungan hidup yang kompleks di daerah ini. Isu-isu yang diperjuangkan meliputi deforestasi, kebakaran hutan dan lahan, kerusakan gambut, konflik agraria, ekspansi Hutan Tanaman Industri (HTI), perkebunan skala besar, pertambangan, hingga persoalan tata ruang dan krisis iklim.

Memasuki usia ke-23 tahun, kondisi lingkungan di Riau dinilai semakin menghadapi tantangan serius. Dampak krisis iklim mulai terasa nyata dengan munculnya intrusi air laut di wilayah pesisir, abrasi pantai, serta kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang hampir setiap tahun.

Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga memunculkan ketimpangan ekonomi serta ancaman terhadap keselamatan masyarakat. Pengelolaan sumber daya alam yang dinilai tidak adil turut memperparah persoalan ekologis di wilayah Bumi Melayu.

Dalam diskusi tersebut, para narasumber juga menyoroti dampak krisis ekologis terhadap kelompok rentan, khususnya perempuan. 
Perubahan lingkungan dan hilangnya ruang hidup membuat perempuan harus menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kesulitan memperoleh air bersih, pangan, hingga menanggung beban sosial dalam keluarga.

Emi Andriati menegaskan bahwa perempuan sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak kerusakan lingkungan. Namun di sisi lain, perempuan juga memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam dan mempertahankan ruang hidup komunitasnya.

Sementara itu, Eko Yunanda dalam pemaparannya menyoroti persoalan deforestasi dan lemahnya penegakan hukum terhadap perusahaan yang merusak lingkungan. Ia menegaskan pentingnya evaluasi terhadap perizinan korporasi yang selama ini dinilai berkontribusi terhadap kerusakan hutan dan lahan di Riau.

Hariansyah Usman menambahkan bahwa ancaman industri ekstraktif kini tidak hanya terjadi di wilayah daratan, tetapi juga meluas hingga kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Menurutnya, wilayah seperti Pulau Rupat dan Pulau Rangsang menghadapi tekanan serius akibat abrasi dan eksploitasi sumber daya alam.

Di sisi lain, Riko Kurniawan mengangkat persoalan tata kelola lingkungan hidup pasca gugatan terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Riau. Ia menilai kebijakan tata ruang harus benar-benar berpihak pada keselamatan ekologis dan hak masyarakat atas ruang hidup.

Riko juga menyoroti persoalan banjir yang kerap terjadi akibat luapan Sungai Kampar setelah pembukaan pintu air PLTA Koto Panjang. Menurutnya, tata kelola air dan transparansi pengelolaan bendungan harus menjadi perhatian serius pemerintah agar tidak terus merugikan masyarakat di hilir.
Selain isu lingkungan daerah, diskusi tersebut juga menyinggung kebijakan energi nasional yang dinilai masih bergantung pada batubara. Kehadiran PLTU Tenayan Raya di Riau menjadi contoh bahwa transisi menuju energi bersih masih berjalan sangat lambat.

Para peserta diskusi juga menyoroti kebijakan energi yang dinilai membuka ruang bagi berbagai solusi semu seperti co-firing, gasifikasi batubara, hingga carbon capture storage. Kebijakan tersebut dianggap justru memperpanjang ketergantungan terhadap energi fosil.

Melalui kegiatan KURMA ini, WALHI Riau ingin memperkuat pemahaman publik tentang keterkaitan antara krisis ekologis dan kerentanan sosial masyarakat. Forum ini juga menjadi ruang penting untuk membangun konsolidasi gerakan masyarakat sipil lintas generasi.

Diskusi tersebut mendorong lahirnya berbagai gagasan strategis, mulai dari upaya menghentikan deforestasi, memperkuat perlindungan wilayah pesisir dan pulau kecil, hingga meningkatkan peran perempuan dalam perjuangan keadilan ekologis.

Momentum peringatan 23 tahun WALHI Riau juga diisi dengan ungkapan rasa syukur di bulan suci Ramadhan. Acara ditutup dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol perjalanan panjang gerakan lingkungan yang terus berjuang menjaga kelestarian alam dan keadilan ekologis di Bumi Melayu.(EP)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Teknologi

Read More

Jajak Pendapat



Komentar Terakhir

  • PelangiQQ

    Ah.. paling bentar ajaa tu - Dapatkan bonus melimpah untuk member baru !! Hanya di ...

    View Article
  • Pelangipoker

    Semoga hukum dapat ditegakkan walaupun melawan orang berduit - Dapatkan bonus untuk member baru ...

    View Article
  • Pokerpelangi

    Udah dapat keja lain mungkin. Habis lama kali diterima PNS - Poker online bonus terbesar untuk ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video