▴Pelantikan Bupati Siak▴
▴Iklan DPRD Siak▴ Gajah Legendaris Jovi Mati, BBKSDA Riau Kehilangan Pejuang Konservasi Andalan

BERMADAH.CO.ID, PEKANBARU –
Kabar duka menyelimuti dunia konservasi Indonesia. Gajah binaan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Jovi, berusia 46 tahun, dinyatakan mati pada Senin (3/8/2026) pukul 20.47 WIB setelah menjalani perawatan intensif selama 34 hari oleh tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau. Gajah jantan yang selama puluhan tahun menjadi andalan dalam penanganan konflik manusia dan satwa liar di Provinsi Riau itu diduga mati akibat komplikasi infeksi saluran pencernaan dan saluran pernapasan atas yang memicu myopathy atau kelemahan otot berat.
Pelaksana Harian (Plh.) Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, di Pekanbaru, Selasa (4/8/2026), menjelaskan bahwa gejala penyakit mulai terlihat sejak 1 Juli 2026. Saat itu Jovi mengalami kelemahan fisik, kehilangan nafsu makan, tremor, kekakuan pada kaki, belalai, dan ekor, serta kesulitan untuk berdiri. Menyikapi kondisi tersebut, tim medis segera memberikan penanganan sesuai standar operasional prosedur (SOP) kesehatan satwa.
Selama masa perawatan, berbagai tindakan medis dilakukan secara maksimal. Tim dokter memberikan terapi cairan infus selama 24 jam, vitamin, antibiotik, antiinflamasi, asam amino, terapi suportif, serta melakukan pemantauan kondisi klinis dan pemeriksaan laboratorium darah secara berkala guna mengetahui perkembangan kesehatan Jovi.
Koordinator Tim Medis BBKSDA Riau, drh. Rini Deswita, mengungkapkan bahwa kondisi Jovi sempat menunjukkan perkembangan positif. Kekakuan pada anggota tubuh mulai berkurang, nafsu makan perlahan membaik, bahkan pada hari keenam perawatan Jovi sempat mampu berdiri dan berjalan beberapa langkah. Hasil pemeriksaan laboratorium juga memperlihatkan adanya penurunan tingkat infeksi setelah menjalani terapi intensif.
Namun, harapan tersebut tidak bertahan lama. Meskipun infeksi sempat mereda, kondisi jaringan otot Jovi terus mengalami penurunan hingga berkembang menjadi myopathy berat. Akibat gangguan tersebut, Jovi kembali tidak mampu berdiri. Selama menjalani perawatan, kebutuhan nutrisi dan cairan tetap dipenuhi melalui pakan khusus serta terapi infus intensif demi mempertahankan kondisi tubuhnya.
Dalam upaya penyelamatan Jovi, BBKSDA Riau mendapat dukungan penuh dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan. Berbagai diskusi dan konsultasi teknis dilakukan bersama dokter hewan dari sejumlah unit di lingkungan Kementerian Kehutanan untuk memperoleh penanganan medis terbaik berdasarkan perkembangan kondisi gajah tersebut.
Kondisi Jovi memburuk secara signifikan pada Minggu (2/8/2026). Gajah tersebut tidak lagi mau makan maupun minum sehingga tim medis meningkatkan terapi suportif. Pada Senin (3/8/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, suhu tubuhnya meningkat hingga sekitar 40 derajat Celsius. Meski berbagai tindakan penyelamatan terus dilakukan, mulai dari pemberian cairan infus, cairan oral, hingga terapi melalui rektal, Jovi mengalami tremor hebat pada pukul 20.43 WIB dan empat menit kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Untuk memastikan penyebab kematian secara ilmiah, tim medis BBKSDA Riau segera melakukan nekropsi serta mengambil sampel organ dan jaringan untuk pemeriksaan laboratorium lanjutan. Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, jenazah Gajah Jovi dimakamkan sesuai prosedur yang berlaku sebagai bentuk penghormatan terhadap satwa konservasi yang telah mengabdikan hidupnya bagi pelestarian alam.
Jovi merupakan gajah jinak jantan asal Kabupaten Indragiri Hulu yang bergabung di PLG Minas sejak 18 Februari 1998. Selama lebih dari dua dekade, Jovi menjadi gajah andalan dalam berbagai operasi mitigasi konflik manusia dan gajah liar di Riau. BBKSDA Riau menyampaikan penghargaan kepada seluruh dokter hewan, paramedis veteriner, mahout, dan petugas lapangan yang telah bekerja tanpa mengenal waktu selama proses perawatan. Kepergian Jovi menjadi kehilangan besar bagi dunia konservasi sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian gajah Sumatera melalui perlindungan habitat, pengurangan konflik manusia dan satwa liar, serta penguatan kolaborasi seluruh pihak demi keberlangsungan spesies yang kini semakin terancam.(EP)
Berita Terkait
- Polda Riau dan Polres Pelalawan Tanam Mangrove Demi Negeri0
- ITP2I Hadirkan Inovasi Teknologi Polen0
- Penanggulangan Karhutla di Wilayah Koramil 02/Sungai Apit, Selasa 4 Agustus0
- Selasa 4 Agustus, Pendampingan Penyemprotan Disinsfektan PMK URC Ternak di Kampung Teluk Mesjid0
- Polsek Bunut Bergerak Cepat, Pelaku Curanmor Dibekuk Kurang dari 24 Jam, Satu DPO Diburu0
- Penanggulangan Karhutla di Wilayah Koramil 02/Sungai Apit, Senin 3 Agustus0
- Senin 3 Agustus, Babinsa Koramil 02/SA Komsos dan Mensosialisasikan Nilai-Nilai Pancasila0
- Peringati Hari Anak Nasional, Srikandi PLN Tebar Inspirasi hingga Pelosok Kepulauan Meranti0
- Karhutla Kerumutan, BPBD Pelalawan Kerahkan 30 Personel dan Helikopter Water Bombing0
- Tampil Solid Sejak Awal, Harimau Putra Bungkam Reebon FC 2-0 di Liga Bengkalis Junior0
Berita Populer
- DR Karmila Sari Dorong Pengembangan SMAN Olahraga Riau
- Penanggulangan Karhutla di Wilayah Koramil 02/Sungai Apit, Jumat 8 November
- Luncurkan Implementasi Layanan Elektronik se-Bali,Menteri AHY:BPN Siap Layani Masyarakat MakinCepat
- Penangkapan Jaringan Internasional Narkoba di Riau, Empat Tersangka Ditangkap
- Bangun Literasi Masyarakat Lewat Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial
- Festival Pilkada Riau 2024
- 382 Personil Polri Diterjunkan untuk Pengamanan TPS Pilkada di Kabupaten Pelalawan
- Wisuda Unisi 2024, Momen Keberhasilan dan Harapan Baru bagi Lulusan
- Perubahan Tradisi Perkawinan Suku Petalangan di Desa Palas, Kecamatan Pangkalan Kuras, Pelalawan
- Rombongan Kajati Riau Monev di Kejari Pelalawan







