Menakar Kehormatan Syarifah dan Marwah

By Bermadah 03 Okt 2020, 10:36:48 WIB Opini
Menakar Kehormatan Syarifah dan Marwah

Keterangan Gambar : Saipul Akbar


BERMADAH.CO.ID, SIAK - Apa yang diucapkan berabad yang lalu dari lisan Laksamana yang melegenda Hang Tuah Putra Perkasa yang mengatakan Takkan Melayu Hilang di Bumi, memang menjadi bukti gambaran sang Laksamana nyata sampai saat ini. Bagaimana kehidupan bangsa Melayu ini yang sudah mengalami pasang surut melewati lorong waktu yang panjang sejak sang sapurba menapak kakinya di bumi Andalas hingga lah zaman yang berkancah teknologi yang tak lagi mengenal batas.

Dapat dipetik dari ucapan sang Laksamana bahwa semacam semangat diwariskan, serta makna tersirat akan tantangan yang dihadapi bangsa Melayu di masanya, masa kini dan masa akan datang

Kata Tak kan Melayu Hilang di Bumi, disadari ataupun tidak merupakan semangat tersemat dan akan mengalir abadi dalam setiap insan insan Melayu. Bila kita bicara Melayu kita akan masuk ke ranah yang paling sakral yakni marwah sampai ada ungkapan yang telah terwaris dalam begitu panjang generasi Melayu. Ungkapan bila marwah dilapah disitu darah wajib tertumpah.

Bicara marwah pasti lah hal sangat sensitif dalam setiap diri manusia Marwah diyakini sebagai kehormatan terhadap diri keluarga kelompok puak, kaum serta tanah air dan segala yang berhubungan kehidupan sosial masyarakat adat budaya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, tatanan nilai sakral harus dijaga, dihormati.

Marwah merupakan sesuatu fitrah yang ada dalam setiap diri yang berakal budi di setiap diri dan jiwa manusia yang merdeka. Cuma, dalam menyikapi mengekpresikannya saat terjadi sesuatu hal menyentuh menyinggung marwah ini berbeda-beda cara setiap menghadapinya.

Banyak faktor yang mempengaruhi SDM-nya baik secara mental, sipiritual, keilmuan, situasi dan kondisi dan syahwat yang mempengaruhi.

Jika bicara yang terjadi akhir-akhir ini di Sungaiapit yang berhubungan s9 ada korelasinya dengan apa yang disebut Marwah dimana dari isu yang berkembang terjadi polemik terhadap sejarah sementara sejarah adalah bagian aset yang sakral dalam kehidupan khususnya Melayu yang tak boleh tercederai apalagi hal yang dipaksakan atas keabsahannya.

Dari apa yang terjadi menyikapi ini dalam mengekpresikan menjaga Marwah banyak cara yang dilakukan disetiap individu seperti yang dilakukan akun wel rafa dan ikatan mahasiswa baik secara surat terbuka dan surat tanggapan langsung ke instansi dan lembaga.
Namun, sampai saat ini apa yang diajukan tersebut belum ditanggapi atau boleh diduga enggan menanggapi karena terlalu lamanya ini terjadi.

Harapan dari sebagian masyarakat ini agar pihak-pihak di atas merupakan kumpulan orang bijak teruji dan terdepan dan dikedepankan. Sehingga, jika ada hal yang terjadi di tengah masyarakat dan apabila dikembalikan kepembicaraan Marwah merekalah orang bermarwah dan terdepan untuk menjaga marwah negeri.

Apa lagi akibat berlarutnya penanganan masalah ini sehingga s9 bukan saja polemik di Sungaiapit tapi telah menjadi bisik-bisik di negara tetangga serumpun yang masih berhubung kait kemelayuannya. 

Kembali kita mengingatkan kepada seluruh anak watan bahwa setelah bergabungnya kerajaan ini ke NKRI merupakan bentuk cinta persatuan ukwah nasionalisnya para bangsawan, dan untuk itu marilah kita hargai jasa-jasa mereka dan menjaga kehormatan anak cucu mereka dari polemik s9 ini dari salah satu media online ada tanggapan dari salah satu waris bangsawan yang dari pernyataannya tersirat makna yang harus kita hormati rasa kekecewaannya.

Selama ini jika saya nilai belum pernah ada zuriat bangsawan bersuara tentang apapun kancah keletah titah dan tatah yang terjadi di negeri yang didirikan oleh pendahulu mereka ini sejak Sultan Syarief Qasim II bergabung ke NKRI, mereka tahu dan bijak meletak diri. Ini lah bentuk adab kebangsawan dalam menjaga marwah mereka. 

Tapi kali ini saya tangkap bahwa hati kecil mereka terusik disaat Syarifah sebagai gelar terhormat zuriat bangsawan juga gelar tersemat zuriat Rasul yang mulia Muhammad SAW diolok akibat pemaksaan sejarah. Kita tau bahwa budaya kita sangat menjunjung tinggi kehormatan perempuan apalagi sekelas bangsawan dan waris turunan nabi untuk menari di hadapan Portugis sebagaimana ungkapan dalam peresmian taman s9.

Ini sangat menjatuhkan kehormatan, tentulah ini juga kehormatan zuriatnya dan seluruh anak Melayu. Marilah kita hargai jasa mereka dan jangan lukai hati mereka itulah yang dinamai marwah anak negeri.

Akhir kata saya berdoa agar Allah SWT membuka dan mengetuk kesadaran seluruh anak negeri baik yang terdepan dan yang dikedepankan yang ditua yang ditokohkan yang tuan dipertuankan dan awam dengan segala ragam untuk kembali menjaga marwah menjunjung kehormatan. Bersihkankan kembali lembaran sejarah watan.(***)

Oleh: Saipul Akbar




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.


Jajak Pendapat



Komentar Terakhir

  • PelangiQQ

    Ah.. paling bentar ajaa tu - Dapatkan bonus melimpah untuk member baru !! Hanya di ...

    View Article
  • Pelangipoker

    Semoga hukum dapat ditegakkan walaupun melawan orang berduit - Dapatkan bonus untuk member baru ...

    View Article
  • Pokerpelangi

    Udah dapat keja lain mungkin. Habis lama kali diterima PNS - Poker online bonus terbesar untuk ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video