UAS Effect: Sebuah Tinjauan Sosial Kemasyarakatan

By Bermadah 02 Agu 2018, 14:45:04 WIB Opini
UAS Effect: Sebuah Tinjauan Sosial Kemasyarakatan

Keterangan Gambar : Dahnilsyah


BERMADAH.CO.ID, PEKANBARU - Tulisan ringan ini tidak bermaksud mengidolakan seseorang, tidak juga melakukan keberpihakan kepada figur tertentu terkait dengan proses pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2019 mendatang. Tulisan ini, hanya bertujuan untuk memberikan semacam pelajaran kepada masyarakat kita bahwa bangsa ini memiliki kemampuan dan potensi yang unggul dalam menciptakan sumber daya manusia yang tangguh, cerdas, dan mumpuni dalam menciptakan kemakmuran dan kejayaan di bumi pertiwi yang bernama Indonesia.

Sebagai seorang akademisi yang secara tidak langsung selalu memilki sensitivitas yang tinggi dalam menyikapi berbagai isu yang berkembang di tengah masyarakat, saya sebenarnya sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang saya dengar dan saya lihat, terutama terkait dengan isu politik pada beberapa hari terakhir ini, menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019. 

Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja, dari forum Ijtima’ Ulama 2018, memasukkan nama Dr Salim Said dan Ustad Abdul Somad, Lc., MA dalam bursa calon Wakil Presiden 2019, sebagai perwakilan Ulama mendampingi Prabowo Subianto. 

Terlepas dari ketenaran UAS selama ini yang terus berda’wah di seantero Nusantara, bahkan hingga merambah ke benua-benua Eropa dan Asia, masuknya nama UAS sebagai figur pendamping Prabowo dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 memang merupakan suatu yang fenomenal. 

Mengapa demikian? Sebagian besar kaum intelektual menduga bahwa figur yang akan mendampingi pak Prabowo akan berasal dari politisi dan mereka yang pernah duduk dalam pemerintahan. Hal ini adalah sangat logis dan beralasan, dikarenakan sistem demokrasi kita yang secara implisit mensaratkan bahwa pencalonan seseorang menjadi Presiden dan Wakil Presiden seharusnya berasal dari partai politik dan public figur yang pernah duduk dipemerintahan, terlepas suka tidak suka masyarakat dengan sepak terjang partai-partai politik selama ini. 

Oleh sebab itulah, sejak dimulainya persiapan masing-masing kubu di percaturan politik kita menghadapi pesta demokrasi lima tahunan ini, nama-nama yang diusulkan oleh beberapa partai politik, semuanya merupakan kader atau simpatisan partai dan orang-orang yang pernah dan sedang terlibat dalam pemerintahan, sebut saja, Anis Baswedan, Gatot Brimantio,Tuan Guru Bajang (TGB), Muhaimin Iskandar, Agus Harimukti Yudhoyono (AHY) dan lain-lain.

Terlepas dari logika dan realita bahwa mereka yang muncul sebagai calon presiden dan wakil presiden, diberbagai negara, umumnya merupakan para politisi dan mereka yang pernah berkecimpung di dalam suatu pemerintahan, munculnya nama Ustad Abdul Somad, yang biasa akrab dipanggil dengan singkatan UAS, merupakan suatu terobosan, atau bisa juga disebut suatu penyadaran bagi masyarakat bahwa, disebuah negara demokrasi, termasuk di Indonesia, setiap individu memiliki hak dan kesempatan untuk menjadi pemimpin di negeri ini. 

Sepak Terjang Seorang UAS

Ustad Abdul Somad, sejatinya adalah seorang penda’wah, atau biasa juga disebut da’i. Sepak terjang beliau selama ini memang selalu diminati, dinanti, dan dimonitor oleh berbagai pihak, tidak terkecuali oleh para politisi yang berkecimpung di legislatif dan eksekutif. Bagi seorang UAS, “Life is an adventure”,: “hidup adalah petualangan”. Karena dibesarkan di bumi Lancang Kuning, meskipun asal asli beliau adalah dari tanah Tapanuli Selatan, Ustad ini kerap berda’wah di hampir wilayah kota dan kabupaten di Provinsi Riau. Beliau kerap mengisi tausyiah atau pengajian mingguan dan sering diundang berceramah pada hari-hari besar Islam, baik diadakan di Masjid, perkantoran pemerintah, kampus, perusahaan, hingga ke pelosok-pelosok pedalaman. Itulah UAS yang dikenal oleh masyarakat Riau selama ini sebagai Ustad Somad mereka. 

Perjalanan hidup manusia memang penuh dengan panggung sandiwara, segala sesuatunya tidak bisa kita duga dan tidak bisa disangka. Siapa menduga UAS akan menjadi tenar seperti sekarang. Sebelum populer dan menjadi public figure seperti sekarang, UAS adalah pribadi yang sangat sederhana, selalu menebarkan senyum dan sapaan ramahnya setiap bertemu dengan setiap orang. Perawakannya kurus, selalu mengenakan Koko tanpa motif, berpeci hitam dengan celana panjang. Jarang sekali Ustad ini mengenakan kain saat berda’wah. Yang paling diminati oleh para Jema’ahnya adalah saat Ustad berbadan ceking ini berceramah, begitu duduk di depan meja, atau berdiri di depan podium, kepiawaian dan kecendekiawanannya langsung nampak. 

Vokal suaranya jelas dan bergema, pengaturan intonasinya enak di dengar. Beliau bisa terlihat tenang, tegas, hingga berapi-api, bagai singa panggung yang membuat setiap orang terpaksa terpana, tenang, dan terkesima saat mendengar ceramahnya, sesekali diselingi dengan humor-humor segar sehingga interaksi dengan jema’ah terasa santai dan akrab. Bahasa yang digunakan oleh UAS sangat umum dan mudah dicerna oleh Jama’ah dari berbagai latar belakang. Isi ceramah UAS sangat ilmiah, selalu berkata berdasarkan rujukan Alqur’an dan hadis-hadis shahih. 

Kehebatan beliau dalam berorasi, mengingatkan saya dengan para orator-orator ulung di dunia, seperti: Soekarno, Kennedi, Barrack Obama, Marthin Luter King JR, dan Theodore Rosevelt, atau para ulama seperti Zainudin M.Z., Muhammad Nasir, HAMKA, dan lain-lain.. 

Dikarenakan sangat jarang mengikuti ceramah-ceramah langsung UAS baik saat beliau masih menjadi Dai’ bagi masyarakat Riau, khususnya Pekanbaru, hingga menjadi popular seperti sekarang, saya hanya bisa melihat kiprah beliau lewat video-video ceramahnya di youtube, termasuk kegiatan-kegitan lain beliau. Satu hal yang sangat membuat saya terharu adalah, di saat menonton aktivitas beliau lewat video youtube, berda’wah bagi para warga suku terasing di Pedalaman Kabupaten Meranti. 

UAS dengan tampilan sederhananya nampak menyungging senyum ramah dan bersahabat di depan rumah sangat sederhana beralaskan kayu dan jerami di daerah pedalaman. Sontak saya sangat terharu dan salut, ditengah agenda beliau yang sangat padat, baik sebagai dosen maupun da’I, masih sempat berda’wah bagi masyarakat pedalaman. 

Dari berbagai sumber yang sangat layak dipercaya, beliaupun dengan ikhlas mensedekahkan honor yang diterimanya dari berda’wah untuk berbagai kegiatan sosial, pendidikan dan kemanusiaan.

UAS Milik Umat Islam Indonesia dan Internasional

Saat ini, UAS, si Ustad ceking dan lincah ini, bukan hanya milik masyarakat Riau, beliau telah menjadi idola dan miliki semua Umat Muslim, bahkan Non-Muslim sekalipun sangat mengidolakannya. Ceramah-ceramahnya, berbagai aktivitas beliau selalu ditunggu dan selalu menjadi trend di berbagai sosmed, baik FB, Twitter, Youtube, dan lain-lain. 

Berbagai media cetak dan online dalam sebulan selalu menampilkan berita mengenai UAS. Nama UAS bagaikan harum bunga di musim semi nan berkelopak mayang, yang aroma wanginya menyebar ke mana-mana. Satu hal yang pasti, kemunculan UAS bagaikan lentera di gelap gulita, bagaikan mata air di pegunungan dan gurun pasir nan tandus. Dengan kemunculan UAS sebagai Ulama sejati Umat, bangsa ini menjadi bangsa yang mencintai norma-norma agama. 

Dengan pengaruh UAS, sekarang kita lihat, anak-anak muda, khususnya para ABG telah memiliki idola mereka dan telah mulai meramaikan tempat-tempat ibadah, menghargai sang pencipta, menghormati orang tua mereka. Dengan kemunculan UAS, para selebriti dan public figure, menjadi tergerak hati mereka untuk mendalami Agama mereka. Perjalanan sprititual anak-anak bangsa di negeri ini semakin marak. Pondok-pondok Pesantren dan Rumah Tahfidz makin menjamur, para ulama di tanah air pun semakin kompak dan keikhlasan mereka dalam berda’wah dan berkontribusi positif bagi masyarakat semakin tampak. 

Saya sangat terharu, di kala  ada beberapa adik-adik mahasiswi yang ikhlas berhijrah, mengenakan hijab dan bertekad mencintai, menghargai dan mendalami agama. Mereka mengatakan terinspirasi dengan da’wahnya UAS. Ini adalah suatu realita bagi bangsa ini yang tidak dapat diukur dengan materi apapun. 

Dengan mencintai dan menghargai nilai-nilai spiritual, tentu sangat berpengaruh sekali terhadap kehidupan sosial masyarakat sehari-hari, paling tidak, penyakit masyarakat dan hal-hal kerawanan sosial otomatis akan semakin berkurang.

UAS Dilirik Menjadi CAWAPRES

Presiden Amerika, Barrack Obama, pernah berkata bahwa ibundanya pernah menasehati, sesuatu yang dikerjakan secara ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan, pada saatnya nanti akan berbuah kebahagiaan dan memberikan pengaruh hebat terhadap orang-orang di sekitar kita. Beberapa bukti sejarah telah kita lihat, bagaimana seorang Rasulullah, Muhammad SAW, Nelson Mandela, Mahatir Muhammad, Albert Einstein, dan begitu banyak tokoh-tokoh dunia lainnya, yang terkenal ramah, tegas, profesional, adil dan mencintai masyarakatnya, hingga sekarang, bahkan hingga wafatnya mereka, meninggalkan kenangan-kenangan indah yang tidak dilupakan oleh rakyat di negara mereka khususnya, dan masyarakat dunia umumnya. 

Mereka adalah para pemimpin yang amanah, dan ikhlas berbuat untuk rakyatnya. Rakyat menaruh kepercayaan dan harapan terhadap mereka. Sama halnya dengan UAS, keikhlasnnya dalam berda’wah selama ini, membuahkan hasil, dengan banyaknya berbagai pihak menaruh kekaguman dan mulai mendekati beliau untuk terlibat dalam pemerintahan.  Terakhir berita yang kita dengar dan lihat, hasil Ijtima’ Ulama tahun 2018, menempatkan beliau sebagai salah satu calon wakil presiden mendampingi Prabowo. Kita harus menyikapi hal ini secara positif. 

Terlepas dari adanya pihak yang skeptis bahwa kemunculan UAS sebagai calon hanya sebatas wacana atau UAS hanya dijadikan cover atau pembungkus untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu oleh beberapa oknum politik, suatu hal yang pasti adalah bangsa ini sudah mulai sangat menghargai peran ulama. Kalau dalam pemilihan kepala daerah hingga pemilihan Presiden dan Wakil Presiden sebelumnya, para politisi melirik selebritis, sekarang mereka mulai mengagumi figur Ulama atau penda’wah. 

Para politisi mulai terbuka relung hati mereka bahwa bangsa ini akan dapat maju dan mencapai kemakmuran bila dipimpin oleh Ulama. Tentu saja mereka sangat selektif dan kritis, Ulama yang mana yang pantas diketengahkan atau dijadikan panutan. Munculnya nama UAS, di samping Dr Salim Segaf, membuktikan bahwa para politisi kita sangat menghargai dan mengagumi sosok seorang UAS yang non-partisan, sederhana, cerdas, dan sangat peduli terhadap Umat. 

Ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa UAS belum waktunya untuk terjun ke dunia politik praktis, bahkan mereka menilai, nasib UAS dikhawatirkan akan sama dengan Almarhum Ustadz Zainudin MZ, yang pernah terjun ke politik, mendirikan partai politik, tetapi tidak membuahkan hasil yang menggembirakan, bahkan sempat ditinggalkan umat, namun namanya kembali tenar dengan kembalinya ke dunia da’wah. 

Marilah kita berpikir positif dan bersikap optimis dalam mengarungi biduk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. UAS tentu berbeda dengan Zainudin MZ. Ustadz Zainudin di kala itu terjun ke politik secara sendiri, mendirikan partai dan langsung menjadi Ketua Umum. 

Lain halnya dengan UAS, beliau hanya seorang dosen dan murni seorang da’i, tidak pernah berniat terjun di dunia politik, tetapi beliau diminta dan diharapkan terjun ke dunia politik untuk kemaslahatan bersama. UAS tidak pernah berambisi untuk menjadi Presiden, Wakil Presiden, Menteri, atau jabatan apapun. Sekali lagi, beliau diminta, diharapkan dan diimpikan oleh Umat dan para politisi untuk membimbing bangsa ini. 

Kita berharap, dengan kemunculan UAS ke dunia politik, akan lebih meramaikan dan memeriahkan pesta demokrasi di negara ini, terutama saat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 nanti. Janganlah kita bersikap skeptis, marah, bahkan iri dengan kemunculan UAS. Janganlah UAS dianggap lawan atau benalu yang akan membawa efek negatif terhadap bangsa kita. 

Kemunculan UAS seharusnya kita hargai dan kita sikapi secara bijak dan berlapang dada. Ini menandakan bahwa bangsa kita sebenarnya merupakan bangsa yang besar sejak era Sriwijaya, Majapahit, Samudra Pasai, yang mampu mencetak kader-kader calon pemimpin yang berakhlak mulia, cerdas, tegas, profesional dan mencintai rakyat, sebagaimana halnya seorang UAS. Ingat, Soekarno pernah berkata “Kita ini bangsa yang besar”. Harapan itu masih ada. SEMOGA!!(***)

Oleh : Dahnilsyah

Penulis adalah pengajar FKIP UNRI, Jama’ah Masjid Nurul Hidayah, Jl. Tengku Bay, Simp. Tiga. Alumni School of Education, University of Leeds, UK.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.


Jajak Pendapat



Komentar Terakhir

Video Terbaru

View All Video